Jumat, 06 Juni 2014

Hubungan Interpersonal & Cinta dan Perkawinan




      I.            Hubungan Interpersonal

 
1.     Model-model hubungan interpersonal
Menurut Goleman dan Hammen dalam Jalaluddin Rakhmat (2011) terdapat empat buah model dalam hubungan interpersonal, yaitu :
a)     Model pertukaran sosial (social exchange model)
Pada model ini, orang berhubungan dengan orang lain karena untuk memenuhi kebutuhannya. Thibault dan Keley menyimpulkan model ini sebagai asumsi dasar bahwa setiap individu secara sukarela memasuki dan tinggal dalam hubungan sosial hanya selama hubungan tersebut cukup memuaskan yang ditinjau dari segi ganjaran dan biayanya. Terdapat empat konsep pokok pada model ini yaitu adanya ganjaran yang menjadi setiap akibat dan dinilai positif, adanya biaya, biaya ini merupakan akibat yang dinilai negative dalam hubungan. Selanjutnya ada hasil atau laba dan yang terakhir ada tingkat perbandingan.
b)    Model peranan (role model)
Model ini menganggap bahwa suatu hubungan merupakan sebuah panggung sandiwara dimana setiap orang harus memainkan peranannya sesuai dengan “naskah” yang telah dibuat oleh masyarakat. Di dalam model peran ini juga terdapat empat model pokok yang berguna untuk mengembangkan hubungan interpersonal yang baik yaitu adanya ekspetasi peranan, tuntutan peranan, keterampilan peran, dan konflik peran.
c)     Model permainan
Model ini dikemukakan oleh seorang psikiater yaitu Erie Berne (1964, 1972). Dalam model ini, orang-orang akan berhubungan di dalam berbagai macam permainan. Yang mendasari permainan ini adalah tiga kepribadian manusia yaitu orang tua, orang dewasa, dan anak-anak.
d)    Model interaksional (interactional model)
Model ini berpendapat bahwa hubungan interpersonal tergabung dalam suatu system. Setiap system memiliki sifat struktural, integratif, dan medan. Di setiap system ini pun memliki subsistem-subsistem yang saling bergantung dan bertindak sebagai satu kesatuan.

2.     Memulai Hubungan
 

Menurut Baron&Byrne (2006) interpersonal attraction adalah penilaian seseorang terhadap sikap orang lain, dimana penilaian tersebut dapat diekspresikan melalui suatu dimensi, mulai dari strong liking sampai dengan strong dislike. Dimensi yang dimaksud memuat lima tingkat dimensi yaitu strong liking biasanya ini berada di lingkungan pertemanan, mild liking ini timbul pada lingkungan persahabatan, neutral terjadi pada kelompok teman biasa atau hanya saling menyapa dan saling mengenal satu sama lain, mild dislike ini tipe seseorang penggangu atau annoying acquaintance, dan strong dislike ini timbul pada seseorang yang tidak menginginkan orang lain hadir ini biasanya terjadi ketika kita tidak menyukai orang tersebut atau bermusuhan dengan orang tersebut.
Dalam melakukan hubungan interpersonal, terdapat tiga faktor yang mempengaruhi penilaian atau ketertarikan interpersonal (interpersonal attraction), yaitu:
a.     Faktor internal
Meliputi dua hal yaitu kebutuhan untuk berinteraksi dan adanya pengaruh perasaan. Kebutuhan berinteraksi adalah suatu keadaan dimana seseorang berusaha untuk mempertahankan suatu hubungan, bergabung dalam kelompok, berpartisipasi dalam kegiatan dengan tujuan untuk berusaha mencapai kepuasan terhadap kebutuhan ini dan agar disukai dan diterima oleh orang lain. Sedangkan pengaruh perasaan adalah ketika kita bertemu seseorang dalam keadaan yang baik dan membuat perasaannya akan semakin positif akan menimbulkan interaksi yang berjalan lancar. Sebaliknya, apabila kita membawa dampak negative terhadap perasaannya maka orang tersebut akan susah untuk berinteraksi dengan kita.
b.     Faktor eksternal
Terdapat dua faktor yang mempengaruhi hubungan interpersonal yaitu faktor kedekatan dan daya tarik fisik. Yang dimaksud dengan faktor kedekatan adalah kita cenderung menyukai orang yang memiliki wajah yang biasa kita kenali dibandingkan dengan orang yang wajahnya tidak kita kenal. Sedangkan untuk daya tarik fisik, biasanya orang akan lebih memilih berinteraksi dengan orang yang menarik dibandingkan dengan orang yang tidak menarik hal ini disebabkan karena orang yang menarik memiliki karakteristik yang lebih positif.
c.      Faktor interaksi
Persamaan-perbedaan merupakan faktor yang dipertimbangkan di dalam faktor interaksi, karena memiliki persamaan dan perbedaan pada seseorang akan menimbulkan adanya hubungan yang erat dan kuat, dan memiliki perbedaan pada orang itupun akan membuat kita untuk belajar hal-hal yang baru dan bernilai darinya. Faktor lainnya adalah reciprocal liking, secara umum kita akan memberikan kembali perasaan yang diberikan orang lain kepada kita. Maksudnya adalah apabila seseorang menyukai kita maka kita akan menyukai orang tersebut, atau sebaliknya jika kita tidak menyukai orang lain, maka orang lain itu tidak akan menyukai kita. Ketika kita disukai oleh orang lain, akan meningkatkan self esteem harga diri) dan membuat kita merasa lebih bernilai.

3.     Hubungan Peran
  • Model Peran
Menganggap hubungan interpersonal sebagai panggung sandiwara. Disini setiap orang harus memerankan peranannya sesuai dengan naskah yang telah dibuat oleh masyarakat. Hubungan interpersonal berkembang baik bila setiap individu bertindak sesuai dengan peranannya.
  • Konflik
Konflik Interpersonal adalah pertentangan antar seseorang dengan orang lain karena pertentengan kepentingan atau keinginan. Hal ini sering terjadi antara duaorang yang berbeda status, jabatan, bidang kerja dan lain-lain. Konflik interpersonal ini merupakan suatu dinamika yang amat penting dalam perilaku organisasi.
Karena konflik semacam ini akan melibatkan beberapa peranan dari beberapa anggota organisasi yang tidak bisa tidak akan mempngaruhi proses pencapaian tujuan organisasi tersebut

  • Adequacy Peran dan Autentisitas Dalam Hubungan Peran
Kecukupan perilaku yang diharapkan pada seseorang sesuai dengan posisi sosial yang diberikan baik secara formal maupun secara informal. Peran didasarkan pada preskripsi (ketentuan) dan harapan peran yang menerangkan apa yang individu-individu harus lakukan dalam suatu situasi tertentu agar dapat memenuhi harapan-harapan mereka sendiri atau harapan orang lain menyangkut peran-peran tersebut.
4.     Intimasi dan Hubungan Pribadi
Intimasi atau ketertarikan adalah suatu fenomena yang dialami dan dirasakan oleh setiap individu di dalam kehidupannya, terkadang ketertarikan itu berawal dari sebuah proses interaksi antara satu individu dengan individu lainnya. Terdapat empat faktor yang mempengaruhi intimasi, yaitu :
a. Ketertarikan berasal dari sesuatu yang nampak atau yang berupa fisik dari lawan jenis kita
b. Adanya kedekatan antar personal yang akan membuat seseorang merasa tertarik dengan lawannya
c. Terjadi hubungan yang menghasilkan keuntungan bagi seseorang tersebut
d. Adanya sebuah kesamaan dan pelengkap atau sesuatu yang akan menjadi kodrat manusia di dalam dunia ini.

5.     Intimasi dan pertumbuhan
Sullivan (Prager, 1995) mendefinisikan intimasi sebagai bentuk tingkah laku penyesuaian seseorang untuk mengekspresikan akan kebutuhannya terhadap orang lain. Kemudian, Steinberg (1993) berpendapat bahwa suatu hubungan intim adalah sebuah ikatan emosional antara dua individu yang didasari oleh kesejahteraan satu sama lain, keinginan untuk memperlihatkan pribadi masing-masing yang terkadang lebih bersifat sensitif serta saling berbagi kegemaran dan aktivitas yang sama.
Factor-factor yang menumbuhkan hubungan interpersonal uang baik berhubungan dengan orang lain tanpa menilai dan tanpa berusaha mengendalikan.factor kedua yang menumbuhkan sikap percaya pada diri orang lain.Kejujuran, factor ketiga yang menumbuhkan sikap percaya.sikap yang mengurangi sikap defensive dalam komunikasi.amat besar pengaruhnya dalam menumbuhkan komunikasi interpersonal yang efektif.Teori-teori tentang efek komunikasi yang oleh para pakar komunikasi tahun 1970-an dinamakan pulahypodermic needle theory, teori ini mengasumsikan bahwa media memiliki kekuatan yang sangat perkasa dan komunikan dianggap pasif atau tidak tahu apa-apa. Teori peluru yang dikemukakan Wilbur Schramm pada tahun 1950-an ini kemudian dicabut pada tahun 1970-an dan meminta kepada para pendukungnya yang menganggap teori ini tidak ada. Sebab khalayak yang menjadi sasaran media ini ternyata tidak pasif.
Kemudian muncul teori model atau model efek terbatas, Hovland mengatakan bahwa pesan komunikan efectif dalam menyebarkan informasi, bukan dalam mengubah perilaku. Penelitian Cooper dan Jahoda pun menunjukan bahwa persepsi selektif dapat mengurangi efektifitas sebuah pesan.Contoh : seorang gadis berjalan lenggak-lenggok seperti pragawati dan banyak pria terpana padanya sampai-sampai tak berkedip, itu merupakan pola S – R. Proses ini merupakan bentuk pertukaran informasi yang dapat menimbulkan efek untuk mengubah tindakan komunikasi (communication act). Model S – R mengasumsikan bahwa perilaku individu karena kekuatan stimulus yang dating dari luar dirinya, bukan atas dasar motif dan sikap yang dimiliki.

II. Cinta dan Perkawinan
 

1.     Memilih Pasangan
Pendekatan  evolusioner ini  merupakan  konsep biologis yang  diterapkan  untuk perilaku sosial oleh para ahli psikologi.  Evolutionary Psychology  didefinisikan sebagai usaha untuk menjelaskan perilaku sosial dalam konteks faktor genetik yang berevolusi sepanjang  waktu  sesuai  dengan  prinsip  seleksi  alami.  Evolutionary  psychology berpandangan  bahwa  manusia  berevolusi  untuk  memaksimalkan  kesuksesan reproduksi, bahwa laki-laki dan perempuan memiliki agenda yang berbeda atas peran yang berbeda dalam menghasilkan keturunan.

2.     Hubungan dalam Perkawinan
Fase bulan madu. Fase ini merupakan periode ideal dalam pernikahan. Pasangan cenderung memiliki perasaan positif. Hubungan pun selalu romantis. Pasangan selalu membicarakan berbagai hal yang belum pernah mereka bahas sebelumnya. Pasangan menikah saling memahami dan menghargai pandangan masing-masing. Pada fase inilah pasangan merasakan jatuh cinta yang mendalam, sehingga sikap mereka pun cenderung lebih toleran, fleksibel, terhadap pasangannya. Pasangan menjadi prioritasnya. Sehingga anggapan bahwa cinta mengalahkan segalanya, berlaku pada fase ini. Kalau pun muncul konflik, pasangan menikah di tahapan bulan madu ini akan fokus menjadi solusi. Fase ini berlangsung antara enam bulan hingga dua tahun.
        Fase penyesuaian. Fase ini paling menantang dalam hubungan pernikahan. Pasangan menikah tak lagi melihat dirinya masing-masing sebagai partner. Konflik dalam hubungan umumnya terjadi seputar masalah seks, intimasi, uang, rasa aman, dan masalah anak.
Fase kekosongan. Fase ini menandai hari jadi pernikahan ke-20. Pasangan menikah secara perlahan melepas tanggung jawabnya mengasuh anak. Anak-anak mulai beranjak dewasa, bahkan mulai bisa hidup mandiri. Pada periode ini, pasangan menikah mulai memikirkan apa yang ingin dilakukan bersama menikmati kehidupan berikutnya.

3.     Penyesuaian&pertumbuhan dalam perkawinan
Fase penyesuaian. Fase ini paling menantang dalam hubungan pernikahan. Pasangan menikah tak lagi melihat dirinya masing-masing sebagai partner. Konflik dalam hubungan umumnya terjadi seputar masalah seks, intimasi, uang, rasa aman, dan masalah anak.

4.     Perceraian dan pernikahan kembali
 

Perceraian adalah berakhirnya suatu pernikahan. Saat kedua pasangan tak ingin melanjutkan kehidupan pernikahannya, mereka bisa meminta pemerintah untuk dipisahkan. Selama perceraian, pasangan tersebut harus memutuskan bagaimana membagi harta mereka yang diperoleh selama pernikahan (seperti rumah, mobil, perabotan atau kontrak), dan bagaimana mereka menerima biaya dan kewajiban merawat anak-anak mereka. Banyak negara yang memiliki hukum dan aturan tentang perceraian, dan pasangan itu dapat diminta maju ke pengadilan.

5.     Alternatif selain pernikahan
Ada banyak alasan untuk tetap melajang. Perkembangan jaman, perubahan gaya hidup, kesibukan pekerjaan yang menyita waktu, belum bertemu dengan pujaan hati yang cocok, biaya hidup yang tinggi, perceraian yang kian marak, dan berbagai alasan lainnya membuat seorang memilih untuk tetap hidup melajang. Batasan usia untuk menikah kini semakin bergeser, apalagi tingkat pendidikan dan kesibukan meniti karir juga ikut berperan dalam memperpanjang batasan usia seorang untuk menikah. Keputusan untuk melajang bukan lagi terpaksa, tetapi merupakan sebuah pilihan. Itulah sebabnya, banyak pria dan perempuan yang memilih untuk tetap hidup melajang.
     Persepsi masyarakat terhadap orang yang melajang, seiring dengan perkembangan jaman, juga berubah. Seringkali kita melihat seorang yang masih hidup melajang, mempunyai wajah dan penampilan di atas rata-rata dan supel. Baik pelajang pria maupun wanita, mereka pun pandai bergaul, memiliki posisi pekerjaan yang cukup menjanjikan, tingkat pendidikan yang baik.
      Alasan yang paling sering dikemukakan oleh seorang single adalah tidak ingin kebebasannya dikekang. Apalagi jika mereka telah sekian lama menikmati kebebasan bagaikan burung yang terbang bebas di angkasa. Jika hendak pergi, tidak perlu meminta ijin dan menganggap pernikahan akan membelenggu kebebasan. Belum lagi jika mendapatkan pasangan yang sangat posesif dan cemburu.
Banyak perusahaan lebih memilih karyawan yang masih berstatus lajang untuk mengisi posisi tertentu. Pertimbangannya, para pelajang lebih dapat berkonsentrasi terhadap pekerjaan. Hal ini juga menjadi alasan seorang tetap hidup melajang.

     
    
Sumber :




NAMA: Natalia Shintia
KELAS: 2PA12
NPM: 15512251

Senin, 21 April 2014

Penyesuain Diri & Stress




A.      Penyesuain Diri

 
Apakah Penyesuaian diri itu? 

Penyesuaian diri merupakan suatu proses dinamis yang bertujuan untuk mengubah perilaku individu agar terjadi hubungan yang lebih sesuai antara diri individu dengan lingkungannya. Setelah kita membaca dan memahami apa itu penyesuain diri. Dan saya akan menjelaskan  lebih jelas dan singkat  lagi tentang penyesuain diri dari 3 sisi, yaitu : Pengertian Penyesuaian Diri, Konsep Penyesuain Diri, dan Pertumbuhan Personal :
 
1. Pengertian Penyesuain Diri
Penyesuain Diri dalam bahasa dikenal dengan istilah adjustment atau personal adjustment. Schneiders berpendapat bahwa penyesuaian diri dapat ditinjau dari tiga sudut pandang, yaitu:
- penyesuaian diri sebagai adaptasi (adaptation)
- penyesuaian diri sebagai bentuk konformitas (conformity)
- penyesuaian diri sebagai usaha penguasaan (mastery)
  Pada mulanya penyesuain diri tidak jauh beda dengan adaptasi ( adaptation ), padahal adaptasi ini pada umumnya lebih mengarah pada penyesuaian diri dalam arti fisik, fisiologis, atau biologis. Misalnya, seseorang yang pindah tempat dari daerah panas ke daerah dingin harus beradaptasi dengan iklim yang berlaku di daerah dingin tersebut. Ada juga penyesuaian diri diartikan sama dengan penyesuaian yang mencakup konformitas terhadap suatu norma. Dengan memaknai penyesuaian diri sebagai usaha konformitas, menyiratkan bahwa di sana individu seakan-akan mendapat tekanan kuat untuk harus selalu mampu menghindarkan diri dari penyimpangan perilaku, baik secara moral, sosial, maupun emosional.

2. Konsep Penyesuain Diri
Seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan telah mampu menyesuaikan diri atau tidak mampu menyesuaikan diri, kondisi fisik, mental, dan emosional dipengaruhi dan diarahkan oleh faktor - faktor lingkungan dimana kemungkinan akan berkembang proses penyesuaian yang baik atau yang salah. Penyesuaian yang sempurna dapat terjadi jika manusia / individu selalu dalam keadaan seimbang antara dirinya dengan lingkungannya, tidak ada lagi kebutuhan yang tidak terpenuhi, dan semua fungsi - fungsi organisme / individu berjalan normal. Namun, penyesuaian diri lebih bersifat suatu proses sepanjang hayat, dan manusia terus menerus menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup guna mencapai pribadi sehat.

3. Pertumbuhan Personal
Setiap individu akan mengalami pembentukan karakter atau kepribadian. Hal tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang dan banyak faktor - faktor yang mempengaruhi pembentukan kepribadiannya tersebut dan keluarga adalah faktor utama yang akan sangat mempengaruhi pembentukan kepribadian. Hal ini disebabkan karena keluarga adalah kerabat yang paling dekat dan kita lebih sering bersama dengan keluarga.
Setiap keluarga pasti menerapkan suatu aturan atau norma yang mana norma - norma tersebut pasti akan mempengaruhi dalam pertumbuhan personal individu. Bukan hanya dalam lingkup keluarga, tapi dalam lingkup masyarakat atau sosialpun terdapat norma - norma yang harus di patuhi dan hal itu juga mempengaruhi pertumbuhan individu. Setiap individu memiliki naluri yang secara tidak langsung, individu dapat memperhatikan hal - hal yang berada disekitarnya apakah  hal itu benar atau tidak, dan ketika suatu individu berada di dalam  masyarakat yang memiliki suatu norma - norma yang berlaku maka ketika norma tersebut di jalankan akan memberikan suatu pengaruh dalam kepribadian, misalnya suatu individu ada di lingkungan masyarakat yang tidak disiplin yang dalam menerapkan aturan - aturannya maka lama - kelamaan pasti akan mempengaruhi dalam kepribadian sehingga menjadi kepribadian yang tidak disiplin. begitupun dalam lingkungan keluarga, semisal suatu individu berada di lingkup keluarga yang cuek maka individu tersebut akan terbawa menjadi pribadi yang cuek. Setelah kita membaca tentang pertumbuhan personal, setelah itu pertumbuhan personal juga memiliki 4 sisi, yaitu Penekanan pertumbuhan, Variasi dalam pertumbuhan, Kondisi - Kondisi Untuk Bertumbuh, Fenomenologi :
Penekanan pertumbuhan diri
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal padaanak yang sehat pada waktu yang normal. Pertumbuhan dapat juga diartikan sebagai proses transmisi dari konstitusi fisik (keadaan tubuh atau keadaanjasmaniah)yang herediter dalam bentuk proses aktif secara berkesinambungan. Jadi, pertumbuhan berkaitan dengan perubahan kuantitatif yang menyangkut peningkatan ukuran dan struktur biologis.

Variasi pertumbuhan 
 Tidak selamanya individu berhasil dalam melakukan penyesuaian diri, karena kadang-kadang ada rintangan-rintangan tertentu yang menyebabkan tidak berhasil melakukan penyesuaian diri. Rintangan-rintangan itu mungkin terdapat dalam dirinya atau mungkin diluar dirinya.

Kondisi-kondisi untuk bertumbuh 
Kondisi jasmaniah seperti pembawa dan strukrur atau konstitusi fisik dan temperamen sebagai disposisi yang diwariskan, aspek perkembanganya secara intrinsik berkaitan erat dengan susunan atau konstitusi tubuh. Shekdon mengemukakan bahwa terdapat kolerasi yang tinggi antara tipe-tipe bentuk tubuh dan tipe-tipe tempramen (Surya, 1977).




B.       STRESS

 
Manusia dalam hidupnya tidak pernah lepas dari masalah. Jika hal tersebut dirasakan menekan, mengganggu dan mengancam maka keadaan ini dapat disebut stress. Menurut Levy, Dignan, dan Shifers mengatakan bahwa stres merupakan beberapa reaksi fisik dan psikologis yang ditunjukkan seseorang dalam merespon beberapa perubahan yang mengancam dari lingkungannya yang disebut stresor.

1. Pengertian Stress dan Efek - Efek Stress dalam  “ General Adaption Syndrom “ menurut Hans Selye
Penyebab Stress, menurut Hans Selye dalam buku Hawari ( 2001 ) menyatakan bahwa stres adalah respon tubuh yang sifatnya nonspesifik terhadap setiap tuntutan beban atasnya. Bila seseorang setelah mengalami stres mengalami gangguan pada satu atau lebih organ tubuh sehingga yang bersangkutan tidak lagi dapat menjalankan fungsi pekerjaannya dengan baik, maka ia disebut mengalami distres. Pada gejala stres, gejala yang dikeluhkan penderita didominasi oleh keluhan - keluhan somatik ( fisik ), tetapi dapat pula disertai keluhan - keluhan psikis. Tidak semua bentuk stres mempunyaikonotasi negatif, cukup banyak yang bersifat positif, hal tersebut dikatakan eustres.
Stress adalah ketegangan, ketakutan, tekanan batin, tegangan konflik antara lain :
- Satu stimulus yang menegangkan kapasitas - kapasitas ( daya ) psikologis atau fisiologis dari suatu organisme
- Sejenis frustasi, dimana aktifitas yang terarah pada pencapaian tujuan telah diganggu oleh atau dipersukar, tetapi tidak terhalang - halangi peristiwa ini biasanya disertai oleh perasaan was - was kuatir dalam pencapaian tujuan
- Kekuatan yang ditetapkan dalam suatu sistem tekanan - tekanan fisik dan psikologis yang dikenakan pada tubuh dan pada pribadi
- Satu kondisi ketegangan fisik atau psikologis disebabkan oleh adanya persepsi ketakutan dan kecemasan.

2. Faktor - Faktor Individual Dan Sosial Yang Menjadi Penyebab Stress

Faktor - Faktor stress yaitu :

- Faktor sosial
Selain peristiwa penting, ternyata tugas rutin sehari - hari juga berpengaruh terhadap kesehatan jiwa, seperti kecemasan dan depresi. Dukungan sosial turut mempengaruhi reaksi seseorang dalam menghadapi stress.
1. Dukungan sosial mencakup, Dukungan emosional, seperti rasa dikasihi
2. Dukungan nyata, seperti bantuan atau jasa
3. Dukungan informasi, misalnya nasehat dan keterangan mengenai masalah tertentu.

- Faktor Individual
Tatkala seseorang menjumpai stresor dalam lingkungannya, ada dua karakteristik pada stresor tersebut yang akan mempengaruhi reaksinya terhadap stresor itu yaitu: Berapa lamanya ( duration ) ia harus menghadapi stresor itu dan berapa terduganya stresor itu ( predictability ).
 
3. Tipe - Tipe Stress Psikologi
Manusia berespon terhadap stres secara keseluruhan, sehingga kita tidak dapat memisahkan secara sangat tegas bentuk - bentuk stres. Stres biologis, misalnya adanya infeksi bakteri, akan juga berpengaruh terhadap emosi kita. Bisa pula suatu stres psikologis, misalnya kegagalan kerja, sangat berpengaruh terhadap kesejahteraan fisik. Meski demikian, dapat disebutkan beberapa tipe stres psikologis, yang sering terjadi bersamaan.
a. Tekanan
Kita dapat mengalami tekanan dari dalam maupun luar diri, atau keduanya. Ambisi personal bersumber dari dalam, tetapi kadang dikuatkan oleh harapan - harapan dari pihak di luar diri.
b. Konflik
Konflik terjadi ketika kita berada di bawah tekanan untuk berespon simultan terhadap dua atau lebih kekuatan-kekuatan yang berlawanan.
- Konflik menjauh-menjauh: individu terjerat pada dua pilihan yang sama - sama tidak disukai. Misalnya seorang pelajar yang sangat malas belajar, tetapi juga enggan mendapat nilai buruk, apalagi sampai tidak naik kelas.
- Konflik mendekat - mendekat. Individu terjerat pada dua pilihan yang sama - sama diinginkannya. Misalnya, ada suatu acara seminar sangat menarik untuk diikuti, tetapi pada saat sama juga ada film sangat menarik untuk ditonton.
- Konflik mendekat - menjauh. Terjadi ketika individu terjerat dalam situasi di mana ia tertarik sekaligus ingin menghindar dari situasi tertentu. Ini adalah bentuk konflik yang paling sering dihadapi dalam kehidupan sehari - hari, sekaligus lebih sulit diselesaikan. Misalnya ketika pasangan berpikir tentang apakah akan segera memiliki anak atau tidak.
c. Frustrasi
Frustrasi terjadi ketika motif atau tujuan kita mengalami hambatan dalam pencapaiannya.
- Bila kita telah berjuang keras dan gagal, kita mengalami frustrasi
- Bila kita dalam keadaan terdesak dan terburu - buru, kemudian terhambat untuk melakukan sesuatu ( misal jalanan macet ) kita juga dapat merasa frustrasi
- Bila kita sangat memerlukan sesuatu ( misalnya lapar dan butuh makanan ), dan sesuatu itu tidak dapat diperoleh, kita juga mengalami frustrasi.
d. Kecemasan
Respon yang paling umum merupakan tanda bahaya yang menyatakan diri dengan suatu penghayatan yang khas, yang sukar digambarkan adalah emosi yang tidak menyenangkan istilah “ kuatir ” “ tegang ” “ prihatin ” “ takut ”fisik antung berdebar, keluar keringat dingin, mulut kering, tekanan darah tinggi dan susah tidur.
 
4. System Reducing Responses Terhadap Stress, Mekanisme Pertahanan Diri Dan Strategi Coping Untuk Mengatasi Stress
1.        Menghilangkan stres mekanisme pertahanan, dan penanganan yang berfokus pada masalah Menurut Lazarus penanganan stres atau coping terdiri dari dua bentuk, yaitu :
a.    Coping yang berfokus pada masalah ( problem - focused coping ) adalah istilah Lazarus untuk strategi kognitif untuk penanganan stres atau coping yang digunakan oleh individu yang menghadapi masalahnya dan berusaha menyelesaikannya.
b.    Coping yang berfokus pada emosi ( problem - focused coping )adalah istilah Lazarus untuk strategi penanganan stres dimana individu memberikan respon terhadap situasi stres dengan cara emosional, terutama dengan menggunakan penilaian defensif.
2.    Strategi penanganan stres dengan mendekat dan menghindar:
a.    strategi mendekati (approach strategies) meliputi usaha kognitif untuk memahami penyebab stres dan usaha untuk menghadapi penyebab stres tersebut dengan cara menghadapi penyebab stres tersebut atau konsekuensi yang ditimbulkannya secara langsung
b.    strategi menghindar (avoidance strategies) meliputi usaha kognitif untuk menyangkal atau meminimalisasikan penyebab stres dan usaha yang muncul dalam tingkah laku, untuk menarik diri atau menghindar dari penyebab stress
3.    Berpikir positif dan self - efficacy
Menurut Bandura self - efficacy adalah sikap optimis yang memberikan perasaan dapat  mengendalikan lingkungannya sendiri. Menurut model realitas kenyataan dan khayalan diri yang dikemukan oleh Baumeister, individu dengan penyesuaian diri yang terbaik seringkali memiliki khayalan tentang diri mereka sendiri yang sedikit di atas rata - rata. Memiliki pendapat yang terlalu dibesar-besarkan mengenai diri sendiri atau berpikir terlalu negatif mengenai diri sendiri dapat mengakibatkan konsekuensi yang negatif.
4.    Sistem dukungan
Menurut East, Gottlieb, O’Brien, Seiffge-Krenke, Youniss & Smollar,keterikatan yang dekat dan positif dengan orang lain – terutama dengan keluarga dan teman – secara konsisten ditemukan sebagai pertahanan yang baik terhadap stres.

strategi coping untuk mengatasi stress “ minor ” :
1. Strategi Terfokus Masalah (Problem Focus Coping), yaitu upaya seseorang untuk memfokuskan perhatian pada masalah atau situasi spesifik yang telah terjadi, sambil mencoba menemukan cara untuk mengubahnya atau menghindarinya.
2. Strategi Terfokus Emosi (Emotional Focus Coping), yaitu upaya untuk mencegah perbuatan negatif menguasai diri seseorang atau mencegah terjadinya masalah yang tidak dapat dikendalikan.
 
5. Pendekatan Problem Solving Terhadap Stress, Bagaimana Mengatakan Toleransi Stress ?
Menurut Siswanto, Salah satu cara dalam menangani stres yaitu menggunakan metode Biofeedback, tekhniknya adalah mengetahui bagian - bagian tubuh mana yang terkena stres kemudian belajar untuk menguasainya. Teknik ini menggunakan serangkaian alat yang sangat rumit sebagai feedback. Meningkatkan Toleransi Stress dan Pendekatan Berorientasi terhadap Tugas :
Meningkatkan toleransi terhadap stres, dengan cara meningkatkan keterampilan / kemampuan diri sendiri, baik secara fisik maupun psikis, misalnya, Secara psikis: menyadarkan diri sendiri bahwa stres memang selalu ada dalam setiap aspek kehidupan dan dialami oleh setiap orang, walaupun dalam bentuk dan intensitas yang berbeda. Secara fisik: mengkonsumsi makanan dan minuman yang cukup gizi, menonton acara-acara hiburan di televisi, berolahraga secara teratur, melakukan tai chi, yoga, relaksasi otot, dan sebagainya.
       




Sumber        :
http://psychologydaily.blogspot.com/2011/04/stress-menurut-hans-selye.html.
http://deevashare.blogspot.com/2012/05/stres-jenis-aspek-penyebab-reaksi fisik.html.
http://belajarpsikologi.com/pengertian-penyesuaian-diri
http://rumusbelajar.blogspot.com/2012/12/pengertian-penyesuaian-diri.html